Mendominasi Hashtag: Taktik Riset dan Partisipasi di Trending Topics Tanpa Terlihat ‘Cringe’ atau Spam
Berpartisipasi dalam Trending Topics (Topik Tren) atau mendominasi hashtag niche adalah impian setiap pemasar digital di Twitter (X). Namun, kesalahan dalam eksekusi dapat membuat merek Anda terlihat oportunistik, tidak relevan (cringe), atau bahkan dianggap sebagai spam. Kuncinya terletak pada riset yang cermat dan strategi partisipasi yang bernilai.
1. Riset Mendalam: Dari Tren Hingga Niche
Mendominasi hashtag tidak dimulai dari posting, tetapi dari mendengarkan (social listening).
A. Tren Jangka Pendek (Trending Topics)
Saat sebuah topik tren muncul (misalnya #LiburTelahTiba), jangan langsung melompat. Lakukan pengecekan kilat:
-
Cek Sentimen: Apa konteks utamanya? Apakah trennya positif, negatif (kritikan), atau hanya humor? Berpartisipasi dalam tren negatif tanpa kehati-hatian adalah bunuh diri merek.
-
Cek Relevansi: Apakah merek Anda benar-benar bisa terhubung dengan tren ini secara otentik? Jika Anda menjual layanan konsultasi keuangan, menghubungkan
#LiburTelahTibadengan pentingnya dana liburan terencana akan lebih otentik daripada sekadar mengucapkan selamat liburan tanpa konteks.
B. Niche dan Komunitas Hashtag
Ini adalah hashtag yang tidak selalu tren, tetapi diikuti oleh audiens inti Anda (misalnya #DigitalMarketingIndonesia, #SaaSLife).
-
Tool Analisis: Gunakan tool analisis (seperti Twitter Analytics, Brand24, atau sejenisnya) untuk mengidentifikasi hashtag yang paling sering digunakan oleh target audience Anda.
-
Konsistensi: Dominasi di sini didasarkan pada nilai dan konsistensi. Postingan yang berisi tips, studi kasus, atau wawasan eksklusif secara rutin dalam hashtag ini akan memposisikan Anda sebagai sumber informasi yang tepercaya.
2. Strategi Partisipasi yang Bernilai (Tidak Spam)
Tujuan utama Anda adalah menambah nilai, bukan sekadar menumpang popularitas.
A. Terapkan Prinsip Konteksualisasi
Alih-alih hanya menyertakan hashtag di akhir tweet, masukkan konten Anda dalam konteks hashtag tersebut.
-
Contoh Buruk (Spam): “Beli produk kami sekarang juga! #TrendingTopic”
-
Contoh Baik (Bernilai): “Melihat #TrendingTopic hari ini, ada pelajaran penting bagi pemasar: kecepatan merespons sentimen publik adalah kunci keberhasilan crisis management. <masukkan wawasan Anda>“
B. Gunakan Batasan Jumlah
Twitter (X) mengizinkan hingga 30 hashtag, tetapi menggunakan terlalu banyak (terutama jika tidak relevan) akan memicu filter spam dan membuat tweet Anda terlihat murahan. Idealnya, gunakan 2-3 hashtag yang sangat relevan. Pisahkan antara branded hashtag Anda dan hashtag topik.
C. Waktu Adalah Segalanya
Untuk trending topics, kecepatan adalah kunci. Semakin cepat Anda berpartisipasi dengan konten yang relevan dan bernilai, semakin besar kemungkinan tweet Anda muncul di bagian atas hasil pencarian tren. Siapkan “cadangan konten” yang fleksibel yang dapat dihubungkan dengan topik tren kapan saja.
3. Membangun Ownership (Kepemilikan)
Untuk mendominasi, Anda harus memimpin percakapan. Mulailah percakapan dengan mengajukan pertanyaan provokatif yang relevan dengan hashtag tersebut, dorong diskusi, dan berinteraksi secara aktif. Dominasi sejati di hashtag adalah ketika pengguna lain mengaitkan hashtag tersebut dengan merek atau wawasan unik dari Anda.
Baca Juga
Apa itu Psikologi Pembeli B2B?
Apa itu...
Whitepaper vs E-book: Strategi Mana yang Lebih Efektif?
Whitepaper...
Memahami Fundamental Whitepaper dan E-book
Memahami...
Dengan riset yang tepat dan partisipasi yang elegan, merek Anda bisa menjadi suara otoritatif, bukan sekadar suara bising di tengah keramaian.
