Kenapa Jangan Bikin Konten ‘Random’ di Instagram
Pernahkah Anda membuka Instagram, melihat notifikasi, dan berpikir, “Mau posting apa, ya?” Lalu, Anda mengambil foto kopi yang baru Anda beli, menambahkan kutipan motivasi yang tidak relevan dengan bisnis Anda, dan selesai. Selamat, Anda baru saja melakukan “Konten Random.”
Konten random mungkin terasa mudah dan cepat, tetapi di mata algoritma Instagram dan, yang lebih penting, calon pembeli, tindakan itu adalah bunuh diri digital perlahan. Berikut alasannya mengapa kebiasaan ini harus dihentikan:
A. Membingungkan Algoritma, Mematikan Reach
Algoritma Instagram (IG) hidup dari data. Ia perlu tahu siapa Anda, untuk siapa Anda, dan tentang apa konten Anda, agar bisa menayangkan postingan Anda kepada audiens yang tepat.
Ketika Anda posting foto produk yang diselingi dengan meme acak, diikuti dengan foto liburan, algoritma menjadi bingung. Ia kesulitan mengkategorikan akun Anda. Akibatnya, alih-alih menampilkan konten Anda kepada calon pembeli yang spesifik, IG hanya menyebarkannya ke audiens umum yang tidak tertarik. Ini akan menurunkan engagement rate Anda, membuat konten Anda dianggap kurang bernilai, dan pada akhirnya, mengurangi reach secara drastis. Anda bekerja keras, tetapi hasilnya nol.
B. Menghancurkan Identitas Merek (Brand Identity)
Coba bayangkan Anda ingin membeli laptop. Anda mengunjungi tiga toko: Toko A menjual laptop, Toko B menjual laptop, panci, dan kacamata renang, sementara Toko C hanya menjual laptop dengan berbagai spesialisasi. Anda pasti memilih Toko C, bukan?
Itulah yang terjadi pada akun Anda. Konten random membuat feed Anda terlihat seperti “toko serba ada” tanpa fokus. Tidak ada Tone of Voice yang konsisten, tidak ada estetika visual yang khas, dan yang terparah, tidak ada pesan jelas tentang solusi apa yang Anda tawarkan. Pembeli akan kesulitan mengingat brand Anda atau apa yang membuat Anda berbeda dari ribuan akun lain. Brand yang tidak jelas, cepat dilupakan.
C. Gagal dalam Perjalanan Pembeli (Buyer’s Journey)
Konten yang terencana dibuat untuk memandu audiens melalui tiga tahap: Awareness (kesadaran), Consideration (pertimbangan), dan Decision (keputusan).
Konten random gagal di ketiga tahap ini. Konten ini tidak memiliki tujuan marketing yang jelas. Apakah tujuannya mendidik? Menghibur? Atau menjual? Karena tidak ada tujuan, tidak ada Call-to-Action (CTA) yang terarah. Audiens hanya melihat, mungkin memberi like (jika beruntung), lalu pergi. Tidak ada jembatan yang dibangun antara konten dan konversi penjualan. Konten hanya menjadi pajangan, bukan alat marketing.
D. Mengabaikan Audiens dan Kebutuhan Mereka
Konten yang baik selalu dimulai dari pemahaman terhadap masalah, keinginan, dan pertanyaan audiens Anda (Pain Points).
Konten random dibuat berdasarkan apa yang Anda ingin posting hari itu, bukan apa yang audiens ingin atau perlu lihat. Ketika Anda tidak menyajikan nilai yang relevan, audiens akan berhenti mengikuti atau sekadar melewatkan postingan Anda. Ingat, Instagram adalah ruang entertainment dan value; jika Anda tidak memberi keduanya, mereka akan mencari akun lain. Mengabaikan audiens sama dengan mengabaikan peluang penjualan.
Baca Juga
Apa itu Psikologi Pembeli B2B?
Apa itu...
Whitepaper vs E-book: Strategi Mana yang Lebih Efektif?
Whitepaper...
Memahami Fundamental Whitepaper dan E-book
Memahami...
Berhenti buang-buang waktu dengan konten yang tidak memiliki tujuan. Konten random hanya memberikan ilusi kesibukan tanpa memberikan dampak nyata pada pertumbuhan bisnis dan penjualan Anda. Saatnya beralih ke strategi pilar konten.
